Sabtu, 30 November 2013

Resensi Buku "Venesia Dari Timur"


         Udah lama yaa gak posting :D kali ini saya akan memaparkan hasil Resensi Buku yang sebenarnya tugas untuk mata kuliah Sejarah Asia Tenggara. Mengapa Buku "Venesia Dari Timur" yang diresensi?? Hal itu karena, penulis dari buku tersebut tak lain dan tak bukan adalah salah satu dosen yang mengajar di prodi saya, yaitu prodi Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya. Bukan hanya karena beliau penulisnya lantas kami diberikan tugas ini. Penugasan pembuatan resensi ini sebenarnya bertujuan sebagai bahan pelajaran tambahan dan untuk menambah nilai mata perkuliahan tentunya :D



Resensi Buku

Penulis             : Dedi Irwanto Muhammad Santun
Judul Buku      :  Venesia Dari Timur : Memaknai Produksi Dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang Dari
                         Kolonial Sampai Pascakolonial
Penerbit           : Ombak
Kota Terbit      : Yogyakarta
Tahun Terbit    : 2011
Tebal Buku      : 298 halaman
Harga Buku     : Rp90.000,00

 


 Oleh :
Desvianti Danurisa (06041381320028)
Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 

         
                 Buku “Venesia dari Timur” ini berisi mengenai ulasan sejarah kota Palembang  dari masa Kolonial sampai dengan masa Pascakolonial yang bukti peninggalan sejarahnya masih bisa kita nikmati hingga saat ini. Di buku ini di tulis secara jelas dan runtut mengenai perubahan politik, ekonomi, budaya, tata kota dan kehidupan masyarakat itu sendiri. Hal itu di buktikan dengan adanya bangunan seperti Benteng Kuto Besak, Jembatan Ampera dan bangunan-bangunan lain yang bernilai sejarah tinggi.
          Menurut penulis, buku ini merupakan kritik terhadap pembangunan kota Palembang. Sebab berbagai kekuatan sejak masa prakolonial hingga masa kemerdekaan senantiasa berupaya menaklukkannya. Yaitu dengan menciptakan jarak antara kota ini dengan penanda utamanya, yaitu air. Palembang dibangun dan dikembangkan dengan perspektif daratan oleh kekuatan-kekuatan tersebut. Air yang tadinya memegang peranan penting dalam menghubungkan masyarakatnya hendak digantikan dengan sesuatu yang solid. Yang mudah dibentuk dan dibingkai, sehingga lebih muda dikendalikan. Alih-alih membiarkannya menjadi sebuah kota terapung yang sudah menjadi kodratnya sejak semula, dibangunlah sebuah Jembatan Ampera yang megah ditengah-tengahnya.
            Dalam buku ini penulis juga mengubah perspektif pada hal lain, yaitu bagaimana perubahan ruang kota membentuk suatu konstruksi fisik yang berujung pada suatu konstruksi ideologis. Ideologis ini merupakan suatu pemaknaan atas beberapa simbol yang ada dalam konstruksi fisik ruang tersebut. Pada buku ini juga dibahas tentang bagaimana keadaan warga kota pada masanya, dalam hal ini penguasa dan penduduk kota, baik dengan kesadarannya maupun dengan ketidaksadarannya, memaknai semua simbolik yang ada tersebut.
            Palembang merupakan suatu kota lama, namun sulit untuk mengidentifikasikan jenis kota ini. Apakah kota keraton, kota pelabuhan, atau kota maritim. Karena berdasarkan cirri etimologi kota, Palaembang dapat dikatakan memiliki ketiga tipologi awalnya. Pada awalnya kota Palembang memiliki beberapa anak sungai dengan sentaralnya yang terletak pada Sungai Tengkuruk di sebelah timur dan Sungai Sekanak di sebelah baratnya. Paling sedikit tercatat lebih kurang 117 buah anak sungai yang mengalir di tengah kota ini dengan bagian jantungnya dimana terdapat banyak air yang mengalir dan tampak jernih.
            Awalnya kota  Palembang merupakan kota dengan dominan wilayah perairan atau sungai dengan sedikit daratan yang ada. Dengan begitu menyebabkan terciptanya proses adaptasi masyarakat atas wilayah perairan, sehingga berpengaruh pada pola kehidupan masyarakat pada waktu itu. Saat itu sungai adalah urat nadi kota ini, dimana segala kebuadayaan penduduknya yang berkehidupan dari tepian sungai. Di mana bentangan alam serta aksesnya yang amat luar biasa menjadikan sungai sebagai sarana komunikasinya, sehingga kehidupan masyarakatnya sangat  ditentukan oleh setiap kayuhan dayung dan perahu melalui air yang pasang maupun surut. Di sungai ini lah tempat terjadinya komunikasi antara orang ulu (orang dusun) dengan orang ilir (orang asli Palembang), melaui sungai-sungai tersebut orang-orang ulu dengan menggunakan perahu kecil mereka menawarkan barang yang mereka bawa dari dusun mereka untuk di perjual belikan dengan orang ilir di sepanjang tepian Sungai Musi.
            Proses awal menghilangnya  simbol kota ini sebagai Venesia dari Timur (Venice of East) di mulai sejak zaman colonial, Gemeente Palembang membuat kebijakan atas pembangunan dan pengaspalan jalan dengan cara menimbun sungai yang ada. Usaha untuk menciptakan kota yang modern ini, Sungai Tengkuruk merupakan anak sungai pertama yang menjadi korban penimbunan untuk dijakannya boulevard kota ini. Penghilangan sungai yang merupakan simbol dari kota ini terus berlanjut sampai masa republik.
            Sungai-sungai terus di timbun, dan ruang daratan pun semakin luas, banyak jalan yang dibangun untuk tembusan dari suatu kota kecil ke kota lainnya. Meski ada pula anak sungai yang tidak timbun, namun dampak terhadap aliran sungai tersebut sangat besar sekali. Pada musim pasang, orang-orang tidak dapat berlayar lagi karena terhalang dengan badan jembatan penghubung antarjalan. Selain itu, hal tersebut juga menyebabkan meluapnya air sungai hingga menyebabkan banjir di setiap sudut kota. Hingga akhirnya pola masyarakat pun berubah, mereka menganggap pembangunan daratan itu sebagai sarana transportasi yang jauh lebih mudah dan cepat bila dibandingkan dengan aliran sungai yang biasa mereka gunakan sebelumnya. Masyarakat pun mencoba untuk beradaptasi dengan perubahan pola ruang tersebut, mereka mulai terbiasa berdagang dengan berjalan kaki, atau menggunakan becak cina, sado maupun mobil.
            Kota Palembang tidak hanya bertindak sebagai ibu kota keresidenan secara politis saja, tetapi juga sekaligus “ibu kota tidak resmi ekonomi” dari perdagangan untuk seluruh wilayah keresidenannya pada saat itu. Palembang memiliki lokasi yang strategis karena terhubung secara luas dengan daerah-daerah lain yang ada di sekelilingnya. Kota ini menjadi sentra dan penyaji utama dalam hubungan tersebut, baik melalui jalur air maupun jalur darat.
            Dalam konsep ideologi kota dagang ini ada beberapa aspek utama yang terpadu dan sekaligus terjalin. Ideologi Palembang sebagai “pusat ekonomi”, membuat pembangunan fisik kota ini memiliki konstruksi ideologi sebagai kota modern yang ditujukan untuk kepentingan perdagangan, namun kepentingan ini ternyata hanyalah topeng belaka, modernisasi ini dibangun dan di rancang hanya untuk kepentingan para petinggi dan penguasa kolonial semata. Mereka membangun jalan-jalan tersebut tak lain dan tak bukan hanya untuk keperluan dan kelancaran ekonomi mereka saja, mereka membangun jalan tersebut agar lebih mudah dan cepat dalam mengakses tempat-tempat yang bernilai tinggi dan memberikan banyak konstribusi untuk kesejahteraan kaum colonial saja, seperti pembangunan kilang minyak di daerah Plaju dan Sungai Gerong ataupun pembangunan perumahan di daerah Talang Semut.
            Setelah melewati masa transisi kemerdekaan yang penuh dengan pergolakan dalam mencari identitas  berupa simbolik, hingga pada pertengahan tahun 1960-an, dihadirkanlah suatu mosaik penuh makna dalam bentuk pembangunan sebuah jembatan di atas Sungai Musi. Jembatan ini di beri nama “Jembatan Ampera”, jembatan ini diresmikan oleh presiden pertama kita yakni Ir. Soekarno selaku pemerintah pusah pada saat itu. Dibangunnya jembatan ini merupakan suatu simbol keinginan kuat untuk maju dengan meninggalkan keadaan yang serba keterbelakangan di masa lampau dengan menyongsong zaman yang lebih maju dan modern. Jembatan Ampera ini adalah simbol yang membawa pemaknaan akan modernisasi kota serta konstruksi kota yang berpengaruh dan menyebar pada pembangunan kota Palembang secara utuh.
Sesungguhnya, perubahan sebuah kota apalagi perubahan tersebut berjalan dalam jangka waktu yang lama, akan membawa berbagai konsekuensi bagi para pendukung polotik, ekonomi, sosial, dan budaya warga kota. Perubahan tersebut akan lebih terlihat pada tata keruangan kota, baik penggunaan maupun penempatan-penempatan untuk kebutuhan kota tersebut. Bangunan publik yang berbentuk fisik dalam tata keruangan ini, tidak hanya bangunan yang ditujukan untuk sebuah kebutuhan jasmani warga kota saja, namun juga telah menjadi simbol yang memiliki banyak makna.
            Metode yang digunakan penulis dalam buku ini adalah metode pendekatan kajian sejarah. Di dalam buku setebal 298 halaman ini, penulis tidak hanya menyoroti Palembang sebagai sebuah konstruksi fisik, tetapi juga sebagai konstruksi ideologis. Tergambar bahwa penulis berhasil menyajikan sebuah ulasan menarik bagaimana ketegangan diantara keduanya tersebut menjadi bingkai dalam pengembangan Kota Palembang ini dari zaman ke zaman. Penulis juga menuturkan jika identitas kota ini tidak pernah betul-betul jelas. Dalam buku ini penulis menyatakan bahwa :
“Palembang adalah sebuah kota keraton, karena secara tradisional di dalamnya terdapat sebuah kesultanan. Palembang juga merupakan kota maritim, karena lingkungan geografisnya didominasi dan dikelilingi air. Bukan laut, melainkan sungai. Dan sungai ini tidak hanya membelah kota di tengah-tengahnya, tetapi juga memotong-motong Palembang menjadi pecahan-pecahan mosaik layaknya sebuah puzzle. Lokasinya yang strategis pun menyebabkan kota ini berfungsi sebagai kota pelabuhan.”

Sebab keberadaan sungai musi yang memecah menjadi ratusan anak sungai dapat memberikan akses dari arah Selat Malaka yang selalu sibuk dan penting sepanjang masa menuju ke daerah pedalaman.
            Buku ini terdiri dari enam bab dan dilengkapi oleh 60 buah gambar menarik dari beberapa sudut Kota Palembang di masa lalu. Selain itu ditambahkan pula sejumlah lampiran-lampiran penting lainnya, seperti teks pidato Presiden Soekarno pada upacara pemancangan tiang pertama, proyek jembatan musi di Palembang tanggal 10 April 1962 lalu serta ada juga daftar isitilah yang dapat mempermudah pembaca untuk mengetahui makna dari suatu kata. Pembahasan dalam kajian buku ini dikemas dengan menarik, dengan menyajikannya secara runtun dan berurutan. Namun, sebaik-baiknya sebuah buku pasti juga memiliki suatu kekurangan. Dalam buku karya Dedi Irwanto Muhammad Santun ini bahasa yang digunakan terlalu ilmiah, sehingga sulit untuk dipahami, apalagi bagi pembaca yang awam, dan terkadang ketika saya tengah mencoba untuk mengerti akan alur dari buku ini saya merasa kebingungan dalam memperoleh makna yang sesungguhnya. Karena seringkali saya merasa dari satu bab ke sub bab lainnya terasa ada suatu kesenjangan. Buku yang amat berharga ini akan jauh lebih baik jika mempergunakan kata-kata yang mudah serta dapat dipahami oleh semua kalangan. Di luar dari pandangan kelebihan maupun kekurangan yang dimiliki, buku ini sangat bermanfaat sebagai bahan untuk meninjau dan meriset sejauh mana perkembangan kota Palembang pada saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar