Udah lama yaa gak posting :D kali ini saya akan memaparkan hasil Resensi Buku yang sebenarnya tugas untuk mata kuliah Sejarah Asia Tenggara. Mengapa Buku "Venesia Dari Timur" yang diresensi?? Hal itu karena, penulis dari buku tersebut tak lain dan tak bukan adalah salah satu dosen yang mengajar di prodi saya, yaitu prodi Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya. Bukan hanya karena beliau penulisnya lantas kami diberikan tugas ini. Penugasan pembuatan resensi ini sebenarnya bertujuan sebagai bahan pelajaran tambahan dan untuk menambah nilai mata perkuliahan tentunya :D
Resensi Buku
Penulis : Dedi Irwanto Muhammad Santun
Judul Buku :
Venesia Dari Timur : Memaknai Produksi
Dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang Dari
Kolonial Sampai
Pascakolonial
Penerbit : Ombak
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 2011
Tebal Buku : 298 halaman
Harga Buku : Rp90.000,00
Oleh :
Desvianti
Danurisa (06041381320028)
Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya
Buku
“Venesia dari Timur” ini berisi mengenai ulasan sejarah kota Palembang dari masa Kolonial sampai dengan masa
Pascakolonial yang bukti peninggalan sejarahnya masih bisa kita nikmati hingga
saat ini. Di buku ini di tulis secara jelas dan runtut mengenai perubahan
politik, ekonomi, budaya, tata kota dan kehidupan masyarakat itu sendiri. Hal
itu di buktikan dengan adanya bangunan seperti Benteng Kuto Besak, Jembatan
Ampera dan bangunan-bangunan lain yang bernilai sejarah tinggi.
Menurut penulis,
buku ini merupakan kritik terhadap pembangunan kota Palembang. Sebab berbagai
kekuatan sejak masa prakolonial hingga masa kemerdekaan senantiasa berupaya menaklukkannya.
Yaitu dengan menciptakan jarak antara kota ini dengan penanda utamanya, yaitu
air. Palembang dibangun dan dikembangkan dengan perspektif daratan oleh
kekuatan-kekuatan tersebut. Air yang tadinya memegang peranan penting dalam
menghubungkan masyarakatnya hendak digantikan dengan sesuatu yang solid. Yang
mudah dibentuk dan dibingkai, sehingga lebih muda dikendalikan. Alih-alih
membiarkannya menjadi sebuah kota terapung yang sudah menjadi kodratnya sejak
semula, dibangunlah sebuah Jembatan Ampera yang megah ditengah-tengahnya.
Dalam buku ini penulis juga mengubah
perspektif pada hal lain, yaitu bagaimana perubahan ruang kota membentuk suatu
konstruksi fisik yang berujung pada suatu konstruksi ideologis. Ideologis ini
merupakan suatu pemaknaan atas beberapa simbol yang ada dalam konstruksi fisik
ruang tersebut. Pada buku ini juga dibahas tentang bagaimana keadaan warga kota
pada masanya, dalam hal ini penguasa dan penduduk kota, baik dengan
kesadarannya maupun dengan ketidaksadarannya, memaknai semua simbolik yang ada
tersebut.
Palembang merupakan suatu kota lama,
namun sulit untuk mengidentifikasikan jenis kota ini. Apakah kota keraton, kota
pelabuhan, atau kota maritim. Karena berdasarkan cirri etimologi kota,
Palaembang dapat dikatakan memiliki ketiga tipologi awalnya. Pada awalnya kota
Palembang memiliki beberapa anak sungai dengan sentaralnya yang terletak pada
Sungai Tengkuruk di sebelah timur dan Sungai Sekanak di sebelah baratnya.
Paling sedikit tercatat lebih kurang 117 buah anak sungai yang mengalir di
tengah kota ini dengan bagian jantungnya dimana terdapat banyak air yang
mengalir dan tampak jernih.
Awalnya kota Palembang merupakan kota dengan dominan
wilayah perairan atau sungai dengan sedikit daratan yang ada. Dengan begitu
menyebabkan terciptanya proses adaptasi masyarakat atas wilayah perairan,
sehingga berpengaruh pada pola kehidupan masyarakat pada waktu itu. Saat itu
sungai adalah urat nadi kota ini, dimana segala kebuadayaan penduduknya yang
berkehidupan dari tepian sungai. Di mana bentangan alam serta aksesnya yang
amat luar biasa menjadikan sungai sebagai sarana komunikasinya, sehingga
kehidupan masyarakatnya sangat
ditentukan oleh setiap kayuhan dayung dan perahu melalui air yang pasang
maupun surut. Di sungai ini lah tempat terjadinya komunikasi antara orang ulu
(orang dusun) dengan orang ilir (orang asli Palembang), melaui sungai-sungai
tersebut orang-orang ulu dengan menggunakan perahu kecil mereka menawarkan
barang yang mereka bawa dari dusun mereka untuk di perjual belikan dengan orang
ilir di sepanjang tepian Sungai Musi.
Proses awal menghilangnya simbol kota ini sebagai Venesia dari Timur (Venice of East) di mulai sejak zaman
colonial, Gemeente Palembang membuat
kebijakan atas pembangunan dan pengaspalan jalan dengan cara menimbun sungai
yang ada. Usaha untuk menciptakan kota yang modern ini, Sungai Tengkuruk
merupakan anak sungai pertama yang menjadi korban penimbunan untuk dijakannya boulevard kota ini. Penghilangan sungai
yang merupakan simbol dari kota ini terus berlanjut sampai masa republik.
Sungai-sungai terus di timbun, dan ruang
daratan pun semakin luas, banyak jalan yang dibangun untuk tembusan dari suatu
kota kecil ke kota lainnya. Meski ada pula anak sungai yang tidak timbun, namun
dampak terhadap aliran sungai tersebut sangat besar sekali. Pada musim pasang,
orang-orang tidak dapat berlayar lagi karena terhalang dengan badan jembatan
penghubung antarjalan. Selain itu, hal tersebut juga menyebabkan meluapnya air
sungai hingga menyebabkan banjir di setiap sudut kota. Hingga akhirnya pola
masyarakat pun berubah, mereka menganggap pembangunan daratan itu sebagai
sarana transportasi yang jauh lebih mudah dan cepat bila dibandingkan dengan
aliran sungai yang biasa mereka gunakan sebelumnya. Masyarakat pun mencoba
untuk beradaptasi dengan perubahan pola ruang tersebut, mereka mulai terbiasa
berdagang dengan berjalan kaki, atau menggunakan becak cina, sado maupun mobil.
Kota Palembang tidak hanya bertindak
sebagai ibu kota keresidenan secara politis saja, tetapi juga sekaligus “ibu
kota tidak resmi ekonomi” dari perdagangan untuk seluruh wilayah keresidenannya
pada saat itu. Palembang memiliki lokasi yang strategis karena terhubung secara
luas dengan daerah-daerah lain yang ada di sekelilingnya. Kota ini menjadi
sentra dan penyaji utama dalam hubungan tersebut, baik melalui jalur air maupun
jalur darat.
Dalam konsep ideologi kota dagang
ini ada beberapa aspek utama yang terpadu dan sekaligus terjalin. Ideologi
Palembang sebagai “pusat ekonomi”, membuat pembangunan fisik kota ini memiliki
konstruksi ideologi sebagai kota modern yang ditujukan untuk kepentingan
perdagangan, namun kepentingan ini ternyata hanyalah topeng belaka, modernisasi
ini dibangun dan di rancang hanya untuk kepentingan para petinggi dan penguasa
kolonial semata. Mereka membangun jalan-jalan tersebut tak lain dan tak bukan
hanya untuk keperluan dan kelancaran ekonomi mereka saja, mereka membangun
jalan tersebut agar lebih mudah dan cepat dalam mengakses tempat-tempat yang
bernilai tinggi dan memberikan banyak konstribusi untuk kesejahteraan kaum
colonial saja, seperti pembangunan kilang minyak di daerah Plaju dan Sungai
Gerong ataupun pembangunan perumahan di daerah Talang Semut.
Setelah melewati masa transisi
kemerdekaan yang penuh dengan pergolakan dalam mencari identitas berupa simbolik, hingga pada pertengahan
tahun 1960-an, dihadirkanlah suatu mosaik penuh makna dalam bentuk pembangunan
sebuah jembatan di atas Sungai Musi. Jembatan ini di beri nama “Jembatan
Ampera”, jembatan ini diresmikan oleh presiden pertama kita yakni Ir. Soekarno
selaku pemerintah pusah pada saat itu. Dibangunnya jembatan ini merupakan suatu
simbol keinginan kuat untuk maju dengan meninggalkan keadaan yang serba
keterbelakangan di masa lampau dengan menyongsong zaman yang lebih maju dan
modern. Jembatan Ampera ini adalah simbol yang membawa pemaknaan akan
modernisasi kota serta konstruksi kota yang berpengaruh dan menyebar pada
pembangunan kota Palembang secara utuh.
Sesungguhnya, perubahan sebuah kota apalagi
perubahan tersebut berjalan dalam jangka waktu yang lama, akan membawa berbagai
konsekuensi bagi para pendukung polotik, ekonomi, sosial, dan budaya warga
kota. Perubahan tersebut akan lebih terlihat pada tata keruangan kota, baik
penggunaan maupun penempatan-penempatan untuk kebutuhan kota tersebut. Bangunan
publik yang berbentuk fisik dalam tata keruangan ini, tidak hanya bangunan yang
ditujukan untuk sebuah kebutuhan jasmani warga kota saja, namun juga telah
menjadi simbol yang memiliki banyak makna.
Metode
yang digunakan penulis dalam buku ini adalah metode pendekatan kajian sejarah.
Di dalam buku setebal 298 halaman ini, penulis tidak hanya menyoroti Palembang
sebagai sebuah konstruksi fisik, tetapi juga sebagai konstruksi ideologis.
Tergambar bahwa penulis berhasil menyajikan sebuah ulasan menarik bagaimana
ketegangan diantara keduanya tersebut menjadi bingkai dalam pengembangan Kota
Palembang ini dari zaman ke zaman. Penulis juga menuturkan jika identitas kota
ini tidak pernah betul-betul jelas. Dalam buku ini penulis menyatakan bahwa :
“Palembang
adalah sebuah kota keraton, karena secara tradisional di dalamnya terdapat
sebuah kesultanan. Palembang juga merupakan kota maritim, karena lingkungan
geografisnya didominasi dan dikelilingi air. Bukan laut, melainkan sungai. Dan
sungai ini tidak hanya membelah kota di tengah-tengahnya, tetapi juga
memotong-motong Palembang menjadi pecahan-pecahan mosaik layaknya sebuah
puzzle. Lokasinya yang strategis pun menyebabkan kota ini berfungsi sebagai
kota pelabuhan.”
Sebab keberadaan sungai musi
yang memecah menjadi ratusan anak sungai dapat memberikan akses dari arah Selat
Malaka yang selalu sibuk dan penting sepanjang masa menuju ke daerah pedalaman.
Buku ini terdiri dari enam bab dan
dilengkapi oleh 60 buah gambar menarik dari beberapa sudut Kota Palembang di
masa lalu. Selain itu ditambahkan pula sejumlah lampiran-lampiran penting lainnya,
seperti teks pidato Presiden Soekarno pada upacara pemancangan tiang pertama,
proyek jembatan musi di Palembang tanggal 10 April 1962 lalu serta ada juga
daftar isitilah yang dapat mempermudah pembaca untuk mengetahui makna dari
suatu kata. Pembahasan dalam kajian buku ini dikemas dengan menarik, dengan
menyajikannya secara runtun dan berurutan. Namun, sebaik-baiknya sebuah buku
pasti juga memiliki suatu kekurangan. Dalam buku karya Dedi Irwanto Muhammad Santun
ini bahasa yang digunakan terlalu ilmiah, sehingga sulit untuk dipahami,
apalagi bagi pembaca yang awam, dan terkadang ketika saya tengah mencoba untuk
mengerti akan alur dari buku ini saya merasa kebingungan dalam memperoleh makna
yang sesungguhnya. Karena seringkali saya merasa dari satu bab ke sub bab
lainnya terasa ada suatu kesenjangan. Buku yang amat berharga ini akan jauh
lebih baik jika mempergunakan kata-kata yang mudah serta dapat dipahami oleh
semua kalangan. Di luar dari pandangan kelebihan maupun kekurangan yang
dimiliki, buku ini sangat bermanfaat sebagai bahan untuk meninjau dan meriset
sejauh mana perkembangan kota Palembang pada saat ini.