Senin, 10 November 2014

Tari Ngantat Dendan ~Tari Pengantar Mempelai Pria Lubuklinggau~

Udah lama binggo ya gak buka apa lagi ngeposting :D So, pada hari yang panjang dan melelahkan yang dikarenakan tugas yang super duper menumpuk, dan bertepatan pada Peringatan Hari Pahlawan di tahun 2014, serta suasana malam yang sudah menyambut dengan kenyamanan dan kedamaian alamnya akhirnya saya putuskan untuk mempostingkan salah satu kesenian dan budaya yang berupa tarian dari daerah asal saya, yaitu Tarian Ngantat Dendan dari wilayah Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Semoga postingan ini dapat membantu dan bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi pecinta budaya yang penuh akan nilai sejarah #HidupJasmerah!!!

Umak-umak ayamku luput
Umak-umak ayamku luput
Sangkane luput ooo...
Sangkane luput hako e jerang...

Umak-umak hatiku henang
Umak-umak hatiku henang
Sangkane henang ooo...
Sangkane henang linjangku hapai...

Nyanyian yang menggambarkan kegembiraan tersebut muncul berbarengan dengan para penari yang memasuki panggung dari sisi kiri dan kanan. Penari yang semuanya perempuan itu mengenakan baju kurung berwarna cerah, bagian bawahnya dihiasi kain songket bermotif indah. Motif kain yang serupa juga digunakan sebagai penutup kepala. Tak lupa ikat pinggang berwarna emas turut mempercantik tampilan para penari.



Tari ngantat dendan merupakan tari kreasi yang digarap khusus sebagai tari yang menggambarkan iring-iringan pengantin pria dalam pernikahan adat Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Ciri utama dari tari ngantat dendan adalah penggunaan properti berupa jaras, yaitu rantang besar yang diikat menggunakan selendang dan diletakkan di kepala.

Dalam budaya Lubuklinggau, jaras pada pernikahan adat digunakan sebagai wadah untuk menampung barang-barang yang diminta oleh mempelai perempuan sebagai mahar pernikahan. Jaras di dalam rombongan mempelai laki-laki biasanya dibawa oleh kaum hawa, baik ibu-ibu maupun para gadis. Karenanya, ketika budaya tersebut diimplementasikan ke dalam tari, tari tersebut hanya dipentaskan oleh kaum hawa.

Secara umum, tari ngantat dendan merupakan tari yang bertumpu pada gerakan tangan dan pinggul. Dibutuhkan keluwesan dan tenaga yang lebih untuk bisa menari sambil memainkan jaras. Gerakan menopang jaras di kepala terlihat eksotis dengan balutan tata rias yang dibuat minimalis, tanpa meninggalkan kesan anggun para penari.



Tari ngantat dendan biasanya diiringi oleh musik batanghari sembilan. Musik tersebut dihasilkan dari perpaduan beberapa instrumen musik modern dan tradisional, seperti gitar, keromong dengan 12 kenong, gendang jimbe, biola, tamborin, dan akordian sebagai melodi. Tak lupa, di sela-sela musik, diselipkan syair-syair pantun yang isinya menggambarkan kegembiraan hati, seperti kegembiraan mempelai pria yang akan bertemu pujaan hatinya.

(Sumber: http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/ngantat-dendan-tari-pengantar-mempelai-pria-lubuklinggau)

Sabtu, 30 November 2013

Resensi Buku "Venesia Dari Timur"


         Udah lama yaa gak posting :D kali ini saya akan memaparkan hasil Resensi Buku yang sebenarnya tugas untuk mata kuliah Sejarah Asia Tenggara. Mengapa Buku "Venesia Dari Timur" yang diresensi?? Hal itu karena, penulis dari buku tersebut tak lain dan tak bukan adalah salah satu dosen yang mengajar di prodi saya, yaitu prodi Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya. Bukan hanya karena beliau penulisnya lantas kami diberikan tugas ini. Penugasan pembuatan resensi ini sebenarnya bertujuan sebagai bahan pelajaran tambahan dan untuk menambah nilai mata perkuliahan tentunya :D



Resensi Buku

Penulis             : Dedi Irwanto Muhammad Santun
Judul Buku      :  Venesia Dari Timur : Memaknai Produksi Dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang Dari
                         Kolonial Sampai Pascakolonial
Penerbit           : Ombak
Kota Terbit      : Yogyakarta
Tahun Terbit    : 2011
Tebal Buku      : 298 halaman
Harga Buku     : Rp90.000,00

 


 Oleh :
Desvianti Danurisa (06041381320028)
Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 

         
                 Buku “Venesia dari Timur” ini berisi mengenai ulasan sejarah kota Palembang  dari masa Kolonial sampai dengan masa Pascakolonial yang bukti peninggalan sejarahnya masih bisa kita nikmati hingga saat ini. Di buku ini di tulis secara jelas dan runtut mengenai perubahan politik, ekonomi, budaya, tata kota dan kehidupan masyarakat itu sendiri. Hal itu di buktikan dengan adanya bangunan seperti Benteng Kuto Besak, Jembatan Ampera dan bangunan-bangunan lain yang bernilai sejarah tinggi.
          Menurut penulis, buku ini merupakan kritik terhadap pembangunan kota Palembang. Sebab berbagai kekuatan sejak masa prakolonial hingga masa kemerdekaan senantiasa berupaya menaklukkannya. Yaitu dengan menciptakan jarak antara kota ini dengan penanda utamanya, yaitu air. Palembang dibangun dan dikembangkan dengan perspektif daratan oleh kekuatan-kekuatan tersebut. Air yang tadinya memegang peranan penting dalam menghubungkan masyarakatnya hendak digantikan dengan sesuatu yang solid. Yang mudah dibentuk dan dibingkai, sehingga lebih muda dikendalikan. Alih-alih membiarkannya menjadi sebuah kota terapung yang sudah menjadi kodratnya sejak semula, dibangunlah sebuah Jembatan Ampera yang megah ditengah-tengahnya.
            Dalam buku ini penulis juga mengubah perspektif pada hal lain, yaitu bagaimana perubahan ruang kota membentuk suatu konstruksi fisik yang berujung pada suatu konstruksi ideologis. Ideologis ini merupakan suatu pemaknaan atas beberapa simbol yang ada dalam konstruksi fisik ruang tersebut. Pada buku ini juga dibahas tentang bagaimana keadaan warga kota pada masanya, dalam hal ini penguasa dan penduduk kota, baik dengan kesadarannya maupun dengan ketidaksadarannya, memaknai semua simbolik yang ada tersebut.
            Palembang merupakan suatu kota lama, namun sulit untuk mengidentifikasikan jenis kota ini. Apakah kota keraton, kota pelabuhan, atau kota maritim. Karena berdasarkan cirri etimologi kota, Palaembang dapat dikatakan memiliki ketiga tipologi awalnya. Pada awalnya kota Palembang memiliki beberapa anak sungai dengan sentaralnya yang terletak pada Sungai Tengkuruk di sebelah timur dan Sungai Sekanak di sebelah baratnya. Paling sedikit tercatat lebih kurang 117 buah anak sungai yang mengalir di tengah kota ini dengan bagian jantungnya dimana terdapat banyak air yang mengalir dan tampak jernih.
            Awalnya kota  Palembang merupakan kota dengan dominan wilayah perairan atau sungai dengan sedikit daratan yang ada. Dengan begitu menyebabkan terciptanya proses adaptasi masyarakat atas wilayah perairan, sehingga berpengaruh pada pola kehidupan masyarakat pada waktu itu. Saat itu sungai adalah urat nadi kota ini, dimana segala kebuadayaan penduduknya yang berkehidupan dari tepian sungai. Di mana bentangan alam serta aksesnya yang amat luar biasa menjadikan sungai sebagai sarana komunikasinya, sehingga kehidupan masyarakatnya sangat  ditentukan oleh setiap kayuhan dayung dan perahu melalui air yang pasang maupun surut. Di sungai ini lah tempat terjadinya komunikasi antara orang ulu (orang dusun) dengan orang ilir (orang asli Palembang), melaui sungai-sungai tersebut orang-orang ulu dengan menggunakan perahu kecil mereka menawarkan barang yang mereka bawa dari dusun mereka untuk di perjual belikan dengan orang ilir di sepanjang tepian Sungai Musi.
            Proses awal menghilangnya  simbol kota ini sebagai Venesia dari Timur (Venice of East) di mulai sejak zaman colonial, Gemeente Palembang membuat kebijakan atas pembangunan dan pengaspalan jalan dengan cara menimbun sungai yang ada. Usaha untuk menciptakan kota yang modern ini, Sungai Tengkuruk merupakan anak sungai pertama yang menjadi korban penimbunan untuk dijakannya boulevard kota ini. Penghilangan sungai yang merupakan simbol dari kota ini terus berlanjut sampai masa republik.
            Sungai-sungai terus di timbun, dan ruang daratan pun semakin luas, banyak jalan yang dibangun untuk tembusan dari suatu kota kecil ke kota lainnya. Meski ada pula anak sungai yang tidak timbun, namun dampak terhadap aliran sungai tersebut sangat besar sekali. Pada musim pasang, orang-orang tidak dapat berlayar lagi karena terhalang dengan badan jembatan penghubung antarjalan. Selain itu, hal tersebut juga menyebabkan meluapnya air sungai hingga menyebabkan banjir di setiap sudut kota. Hingga akhirnya pola masyarakat pun berubah, mereka menganggap pembangunan daratan itu sebagai sarana transportasi yang jauh lebih mudah dan cepat bila dibandingkan dengan aliran sungai yang biasa mereka gunakan sebelumnya. Masyarakat pun mencoba untuk beradaptasi dengan perubahan pola ruang tersebut, mereka mulai terbiasa berdagang dengan berjalan kaki, atau menggunakan becak cina, sado maupun mobil.
            Kota Palembang tidak hanya bertindak sebagai ibu kota keresidenan secara politis saja, tetapi juga sekaligus “ibu kota tidak resmi ekonomi” dari perdagangan untuk seluruh wilayah keresidenannya pada saat itu. Palembang memiliki lokasi yang strategis karena terhubung secara luas dengan daerah-daerah lain yang ada di sekelilingnya. Kota ini menjadi sentra dan penyaji utama dalam hubungan tersebut, baik melalui jalur air maupun jalur darat.
            Dalam konsep ideologi kota dagang ini ada beberapa aspek utama yang terpadu dan sekaligus terjalin. Ideologi Palembang sebagai “pusat ekonomi”, membuat pembangunan fisik kota ini memiliki konstruksi ideologi sebagai kota modern yang ditujukan untuk kepentingan perdagangan, namun kepentingan ini ternyata hanyalah topeng belaka, modernisasi ini dibangun dan di rancang hanya untuk kepentingan para petinggi dan penguasa kolonial semata. Mereka membangun jalan-jalan tersebut tak lain dan tak bukan hanya untuk keperluan dan kelancaran ekonomi mereka saja, mereka membangun jalan tersebut agar lebih mudah dan cepat dalam mengakses tempat-tempat yang bernilai tinggi dan memberikan banyak konstribusi untuk kesejahteraan kaum colonial saja, seperti pembangunan kilang minyak di daerah Plaju dan Sungai Gerong ataupun pembangunan perumahan di daerah Talang Semut.
            Setelah melewati masa transisi kemerdekaan yang penuh dengan pergolakan dalam mencari identitas  berupa simbolik, hingga pada pertengahan tahun 1960-an, dihadirkanlah suatu mosaik penuh makna dalam bentuk pembangunan sebuah jembatan di atas Sungai Musi. Jembatan ini di beri nama “Jembatan Ampera”, jembatan ini diresmikan oleh presiden pertama kita yakni Ir. Soekarno selaku pemerintah pusah pada saat itu. Dibangunnya jembatan ini merupakan suatu simbol keinginan kuat untuk maju dengan meninggalkan keadaan yang serba keterbelakangan di masa lampau dengan menyongsong zaman yang lebih maju dan modern. Jembatan Ampera ini adalah simbol yang membawa pemaknaan akan modernisasi kota serta konstruksi kota yang berpengaruh dan menyebar pada pembangunan kota Palembang secara utuh.
Sesungguhnya, perubahan sebuah kota apalagi perubahan tersebut berjalan dalam jangka waktu yang lama, akan membawa berbagai konsekuensi bagi para pendukung polotik, ekonomi, sosial, dan budaya warga kota. Perubahan tersebut akan lebih terlihat pada tata keruangan kota, baik penggunaan maupun penempatan-penempatan untuk kebutuhan kota tersebut. Bangunan publik yang berbentuk fisik dalam tata keruangan ini, tidak hanya bangunan yang ditujukan untuk sebuah kebutuhan jasmani warga kota saja, namun juga telah menjadi simbol yang memiliki banyak makna.
            Metode yang digunakan penulis dalam buku ini adalah metode pendekatan kajian sejarah. Di dalam buku setebal 298 halaman ini, penulis tidak hanya menyoroti Palembang sebagai sebuah konstruksi fisik, tetapi juga sebagai konstruksi ideologis. Tergambar bahwa penulis berhasil menyajikan sebuah ulasan menarik bagaimana ketegangan diantara keduanya tersebut menjadi bingkai dalam pengembangan Kota Palembang ini dari zaman ke zaman. Penulis juga menuturkan jika identitas kota ini tidak pernah betul-betul jelas. Dalam buku ini penulis menyatakan bahwa :
“Palembang adalah sebuah kota keraton, karena secara tradisional di dalamnya terdapat sebuah kesultanan. Palembang juga merupakan kota maritim, karena lingkungan geografisnya didominasi dan dikelilingi air. Bukan laut, melainkan sungai. Dan sungai ini tidak hanya membelah kota di tengah-tengahnya, tetapi juga memotong-motong Palembang menjadi pecahan-pecahan mosaik layaknya sebuah puzzle. Lokasinya yang strategis pun menyebabkan kota ini berfungsi sebagai kota pelabuhan.”

Sebab keberadaan sungai musi yang memecah menjadi ratusan anak sungai dapat memberikan akses dari arah Selat Malaka yang selalu sibuk dan penting sepanjang masa menuju ke daerah pedalaman.
            Buku ini terdiri dari enam bab dan dilengkapi oleh 60 buah gambar menarik dari beberapa sudut Kota Palembang di masa lalu. Selain itu ditambahkan pula sejumlah lampiran-lampiran penting lainnya, seperti teks pidato Presiden Soekarno pada upacara pemancangan tiang pertama, proyek jembatan musi di Palembang tanggal 10 April 1962 lalu serta ada juga daftar isitilah yang dapat mempermudah pembaca untuk mengetahui makna dari suatu kata. Pembahasan dalam kajian buku ini dikemas dengan menarik, dengan menyajikannya secara runtun dan berurutan. Namun, sebaik-baiknya sebuah buku pasti juga memiliki suatu kekurangan. Dalam buku karya Dedi Irwanto Muhammad Santun ini bahasa yang digunakan terlalu ilmiah, sehingga sulit untuk dipahami, apalagi bagi pembaca yang awam, dan terkadang ketika saya tengah mencoba untuk mengerti akan alur dari buku ini saya merasa kebingungan dalam memperoleh makna yang sesungguhnya. Karena seringkali saya merasa dari satu bab ke sub bab lainnya terasa ada suatu kesenjangan. Buku yang amat berharga ini akan jauh lebih baik jika mempergunakan kata-kata yang mudah serta dapat dipahami oleh semua kalangan. Di luar dari pandangan kelebihan maupun kekurangan yang dimiliki, buku ini sangat bermanfaat sebagai bahan untuk meninjau dan meriset sejauh mana perkembangan kota Palembang pada saat ini.

Selasa, 04 Desember 2012

Overview of me (Sekilas mengenai saya)

Hi :)
Nama lengkap gue DESVIANTI DANURISA tapi temen-temen deket gue sering manggil gue DEVI, yang lebih singkatnya Vi :D
Gue lahir di Lubuklinggau, Palembang, Indonesia tanggal 31 Desember 1995 #Desemberend.
Sekarang gue masih menempuh pendidikan di SMA Xaverius Lubuklinggau, mengambil jurusan IPS. XII IPS 3 tepatnya :)
Baiklah, mungkin ini cuma sekilas mengenai gue.
Bagi yang pengen kenal deket ama gue bisa add facebook or follow twitter gue.
Facebook: Devy Dn Danurisa
Twitter: @Devy_Dn

Thank you :)

Hi :)
My full name is DESVIANTI DANURISA but my close friends call me often DEVI, a short Vi: D
I was born in Lubuklinggau, Palembang, Indonesia dated December 31, 1995 # Desemberend.
Now I'm still studying in Senior High School
Lubuklinggau Xavier, majored in social studies. XII IPS 3 to be exact :)
Well, maybe it's just a glimpse of me.
For those who want to know near as I can add my facebook or follow my twitter.
Facebook: Devy Dn Danurisa
Twitter: @ Devy_Dn
Thank you :)

Senin, 03 Desember 2012

Cerpen "Cleo&Patra"


K
etika paginya aku membuka mata – atau lebih tepatnya tengah malam – aku melihat banyak cahaya aneh berkilauan dan dilatar belakangi suara decitan pedang dan banyak suara jeritan dan teriakan yang parau. Ketakutan mulai merasuki pikiranku. Aku menyipitkan mata saat ingin melihat sesuatu diluar sambil berusaha bangkit dari kasur empukku yang masih merayuku dengan kehangatannya, namun rasa keingintahuanku dengan cepat menolaknya. Aku berlari menuju jendela kamar untuk melihat apakah yang sedang terjadi diluar sana. Suara kepala pelayanku – Sarah Arthur – yang berteriak sekencang-kencangnya sehingga membuatku terkaget dibuatnya. Aku bertanya-tanya padanya untuk segera menjelaskan padaku sesungguhnya apa yang terjadi. Ia memasukkan pakaianku sebanyak-banyaknya yang bisa ia jejal ke dalam tas segalanya dan sekarang tas berwarna ungu kehitam-hitaman itu sudah penuh dengan semua perlengkapanku.
 “Sarah, kita mau pergi kemana ? Apakah Ibu, Diago dan Prycella sudah mengetahui hal ini ?” aku kembali menanyainya dan dengan cepat mengenakan  jubahku yang tergantung dibalik pintu.
“Putri muda Lyra, kumohon jangan mempersulitku. Yang harus diselamatkan di istana ini bukan hanya dirimu. Bawalah tas ini dan segera pergi ke Gerbang Cahaya, disana Yang Mulia Ratu,  dan Pangeran Diago telah menuggu Putri muda. Dan tentu saja Putri harus melalui jalan rahasia, aku akan memerintahkan beberapa pengawal untuk menjaga Putri agar sampai di Gerbang Cahaya dengan cepat dan selamat tentunya.” Ia menyerahkan tas berat itu padaku tanpa memikirkan apakah aku akan sanggup untuk menggotongnya keluar hingga sampai ke Gerbang Cahaya dengan cepat dan selamat seperti apa yang diharapkannya.
Aku pun segera membuntutinya dengan cepat turun naik dari satu tangga ke tangga lainnya, berbelok kekiri dan kekanan hingga akhirnya sampai didepan pintu  Gerbang Cahaya. Sesampainya disana ibu langsung memelukku erat dan berkata “ Lyra kau harus pergi bersama Prycella dan Diago ke dunia manusia. Suasana saat ini sedang mencekam. Ibu sangat senang jika kau mau menuruti perkataanku ini. Selama didunia manusia kalian akan tinggal bersama bibi Katherine di London, lakukan apapun yang dikatakannya. Jangan membatahnya.“ ibu berkata dengan tegas. Kakaku Diago menolak untuk ikut bersama kami kedunia manusia, ia merasa harus memimpin perang kali ini. Begitu juga ibu, ia sebagai seorang ratu tidak mungkin meninggalkan rakyatnya disaat seperti ini. Akhirnya ibu tetap memutuskan aku dan Sella untuk pergi kedunia manusia bersama  Jendral Fabrio Heporis, Sarah dan anaknya – Julius Arthur – dan sekitar 8 orang prajurit untuk menjaga kami. Diago menyarankan agar ibu sementara waktu beristirahat dulu dikediaman paman Antonio Bizonger, dan Diago sendiri sementara akan memengang alih kekuasaan. Meski Diago bukanlah anak sulung dikeluarga kami, tapi aku yakin jika ayah masih hidup pun ia dengan senang hati akan memberikan tahtah Kerajaan Lautan Sihir ketanggannya, bukan ketangan Sella yang sok tahu itu.
Aku adalah seorang putri bungsu dari pasangan raja dan ratu Kerajaan Lautan Sihir. Ayahku yaitu James Van Federich Dozaperes dan ibuku – Mellyora Neils Mildewe -. Aku memiliki dua orang saudara yakni Prycella Victoria Dozaperes (Sella) dan Albert John Diago Dozaperes (Diago) dan namaku sendiri adalah Vallera Van Laurent Dozaperes, tapi ayah lebih suka memanggilku dengan Lyra. Mengingat tentang ayah membuatku sedih, ayah sudah pergi meninggalkan kami 3 tahun lalu saat bertempur melawan para werewolf dan vampir di Perbatasan Gerbang. Peperangan itu sendiri seperti tanpa sebab yang pasti. Ia adalah sosok pahlawan sepanjang masa. Aku sebenarnya juga ingin menemani Diago berperang untuk membalaskan dendamku pada para vampir yang telah membunuh ayahku. Namun, aku masih takut. Semoga suatu saat nanti aku mempunyai keberanian dan kekuatan yang besar untuk dapat melawan mereka.
Perjalanan menuju dunia manusia sangatlah singkat – hanya dalam hitungan detik saja – kami melewati pintu kayu tua yang ternyata adalah gerbang antara dunia sihir dan dunia manusia. Gerbang Cahaya sendiri ialah sebuah pondok tua dipedalaman Hutan Salem di perbatasan Britaniya Raya dan Skotlandia. Yang melelahkan adalah perjalanan menuju rumah bibi Katherine di London, selama perjalanan aku tertidur, jadi aku tak tahu seberapa lama perjalanan tadi.
* * *
Saat didunia manusia aku mau tak mau harus hidup layaknya seorang manusia normal. Itu berarti tak ada tongkat sihir, tak ada mantra, tak ada jubah, dan pastinya tak ada sapu terbang yang dapat membawamu terbang mengelilingi kota. Begitu juga dengan Prycella, karena usianya yang terbilang sudah produktif yakni 21 tahun – 5 tahun lebih tua dariku – ia disarankan untuk bekerja diperusahaan yang dipegang oleh paman Hendry – suami bibi Katherine – jadi ia bekerja disana sebagai karyawan dibidang pemasaran. Awalnya ia tampak jelas tidak setuju, namun aku mengingatkannya akan usaha melarikan diri ini. Jadi dia menyetujuinya tanpa syarat.
Aku mulai membiasakan diri disini – didunia manusia –. Aku bersekolah di Victoria School bersama Julius. Sebelumnya aku juga pernah sekolah di Yohanes Young School. Aku menyukai sekolah lamaku – sangat –. Disana aku belajar bagaimana cara mengendarai sapu terbang dengan baik, membaca ramalan, mempelajari rune kuno, mngubah diriku sendiri menjadi hewan (transfigurasi), menghafalkan beberapa mantra pertahanan ilmu hitam dan penyiksaan, membuat ramuan keberuntungan dan bagian yang aku suka saat aku bersekolah disana ialah ... berjumpa dengan Pangeran William Lee Han Edgar. William begitu sempurna. Ia masih keturunan pureblood – darah murni – atau lebih jelasnya belum ada pencampuran darah dengan humanborn – kelahiran manusia -. Sesungguhnya ia berasal dari Asia, Korea tepatnya. Matanya yang khas, kulitnya yang eksotis dan dengan tambahan biru terang bola matanya membuat dia benar-benar terlihat perfect. Disekolah lamaku kami hanya pulang 3 bulan sekali, tidak seperti disini. Aku harus pulang pergi setiap hari, itu membuatku kelelahan. Hanya ada satu pelajaran yang bisa kuterapkan dari dunia sihir kedunia manusia ini, yaitu Bersosialisasi dengan humanborn. Itu cukup membantuku mengerti mengapa manusia sangat membenci kami. Saat dikelas Sejarah Inggris tadi aku bersama Erika Corous – satu-satunya teman baru manusia yang kupunya – harus membahas tentang Pembantaian Penyihir pada Abad Pertengahan. Itu sangat menggangguku. Aku merinding saat Mr. Aridne membacakan cerita itu lembar demi lembar. Erika cekikikan melihatku begitu. Aku bertambah benci dengan para humanborn ini, rasanya ingin sekali aku mengayunkan tongkat sihirku dan mengucapkan mantra penyiksaan. Agar mereka tahu bagaimana sengsaranya kami para penyihir ketika harus hidup secara sembunyi-sembunyi selama berabad-abad karena ulah keji mereka yang tega membunuh, membantai bahkan membakar kami yang belum tentu bersalah ini.
Akhinya bel pulang sekolah pun berbunyi. Aku memasukkan asal-asalan bukuku kedalam tas. Aku melewati beberapa koridor dengan langkah secepat yang kubisa. Hingga seorang siswa menabrakku tak sengaja dan membuat keseimbanganku hilang.
“Maaf nona, aku terlalu terburu-buru” ucapnya sambil meraih tanganku dan membantuku berdiri.
“Tidak apa-apa. Tadi aku berjalan dengan sangat cepat sampai aku tak melihatmu” aku berdiri dan mencoba membersihkan pakaianku.
“Sepertinya kau murid baru itu ya. Kenalkan aku Jhovan. Jhovan de Laughter Mauler.” ia mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan, aku menyambutnya dengan hangat. Tangannya terasa dingin fikirku.
“Ya. Aku baru pindah 2 minggu yang lalu. Aku tinggal bersama bibiku. Hai Jhovan. Aku Vallera Van Laurent Dozaperes. Nama yang panjang ya. Tapi kau bisa memanggilku dengan Lyra.”
“Baiklah. Jadi kau mau kemana Lyra ?”
“Pulang tentunya.”
“Sebagai tanda maafku, maukah kau kuantarkan pulang ?” aku berfikir sejenak. Tapi kerena aku sedang lelah jadi aku mengiyakan ajakannya.
Sepanjang perjalanan Jhovan dan aku berbincang-bincang tentang hobi kami masing-masing. Aku menatapnya. Ia tak terlalu buruk, aku bergumam dalam hati. Bisa dibilang dia pria yang memukau gaya rambutnya yang acak-acakan, matanya yang begitu hitam, kulitnya yang putih albino dan bentuk tubuhnya yang cukup kekar. Aku melirik benda yang tergantung dilehernya. Aku bertanya mengapa ia mau memakai benda aneh itu. Ia menjelaskan bahwa ini adalah kalung keluarga, jadi ia harus memakainya kemana pun dia pergi. Fikiranku menangkap ada hal yang berbeda dalam diri Jhovan, namun aku tak bisa melihatnya dengan jelas.
* * *
Prycella mulai menyukai pekerjaan barunya itu. Ia tampak sangat sibuk. Ini waktu yang tepat. Jadi aku memutuskan untuk pergi diam-diam kembali ke Lautan Sihir. Aku tak mau membuang waktu, jadi ku gunakan sapu terbangku yang disita oleh bibi Katherine untuk pergi kesana. Aku merindukan Ibu – sangat –. Ini sudah hampir 1 bulan semenjak kami meninggalkan istana. Dan baik ibu maupun Diago belum ada kabarnya. Aku tak sabar untuk sampai disana dan bisa melihat ibu dan Diago tersenyum menyambutku.

* * *
“Tidakkk ...!!!” aku berteriak sekuat tenagaku, “Siapa ? Siapa yang telah membunuh kakakku ?” tangisku menjadi-jadi setelah kulihat bahwa Diago telah terbujur kaku dikasur tempat tidurnya. Darah segar membasahi baju perangnya. Kutatap ia dengan sepenuh hati, kupeluk jasad kakakku itu dipangkuanku. “Tidak!, ini pasti hanya mimpi . Cubit aku. Beritahu aku bahwa ini benar-benar hanya mimpi!” aku tak sanggup menerima kenyataan ini. Kakakku tercinta, Diago menjadi korban peperangan ini, setelah dulu ayahku sempat menjadi korban juga. Aku syok. Benar-benar syok. Aku tak bisa berfikir jernih lagi. Bagaimana ini ? Apa yang harus kulakukan ? Apakah aku harus memberitahukan Sella sekarang juga ? Apakah ibu sudah tahu tentang ini ? Bagaimana nasib kerajaan dan rakyatku ini jika orang yang memimpinnya mati ?. Bermacam-macam hal aneh ada dikepalaku mengelilingi otakku dan berkecamuk difikiranku.
“Tenanglah Putri Muda Lyra. Tak ada gunanya Yang Mulia menangisi kepergianya, ia sudah pergi ke Dunia Abadi dan meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Kuatkanlah dirimu Yang Mulia Putri. Kau harus kuat menghadapi bencana ini.” Mr. Goldenred, penasihat raja memberiku kata-kata yang penuh kekuatan.
“Apakah ibu sudah mendengar berita ini ?” aku berkata dengan terisak-isak dan mencoba menyeka iar mataku yang membasi wajahku.
“Yang Mulia Ratu pergi ke Daratan Langit untuk meminta bantuan pada para petinggi kementrian sihir dunia 2 hari sebelumnya.” Ia menggotongku keluar kamar Diago dengan hati-hati.
“Siapkan baju perang untukku.”
“Tapi Yang Mulia, Yang Mulia Ratu takkan pernah mengizinkan Yang Mulia Putri Muda untuk ikut berperang.” Ia mencoba menghalangiku.
“Ibu tidak ada disini. Jadi saat ini akulah yang berkuasa. Sekarang cepat kau siapkan baju perang untukku. Ini perintah!” niatku sudah bulat. Aku ingin melampiaskan amarahku ini. Inginku balaskan dendam ayah dan kakakku, merkipun nyawaku taruhannya. Aku tak perduli. Aku telah memiliki alasan yang kuat untuk melakukan ini. Kekuatan yang sangat besar.
“Siapa ?” aku kembali mengulang pertanyaanku pada sang penasihat raja. Ia tak menjawab. Ia hanya menolehkan wajahnya pada sebuah lukisan dikamar pribadi raja. Vampir. Tak ada ampun untuk kalian bangsa berdarah dingin. Aku meraih pedang ayahku yang telah lama disimpannya didalam lemari. Sang penasihat memberiku sebuah kalung. Kalung yang indah. Sepertinya aku pernah melihat kalung ini sebelumnya – aku mencoba mengingat -. Namun tak ada waktu lagi. Aku dan pasukanku segera menyerbu para werewolf dan vampir di luar perbatasan daerah kami. Namun sebelumnya, aku memantrai wilayah istana dan tempat tinggal rakyatku dengan mantra pertahanan sehingga tak ada satu pun yang dapat menyentuh dan menembusnya kecuali penyihir. Aku bertempur dengan membabi buta. Aku tak peduli. Aku tak bisa menahan emosiku lagi, entah telah berapa lama aku berperang, hingga aku mulai merasa kakiku gemetaran. Akhirnya. Aku bisa mengalahakan mereka semua. Aku senang sekaligus bangga. Kami pun kembali keistana. Prajuritku berhasil menangkap 4 werewofl dan 3 orang vampir yang masih hidup. Aku akan mengintrogasi mereka nanti setelah aku mandi tentunya.
“Bawa mereka kehadapanku” perintahku pada prajurid untuk membawakan para tawanan perangku tadi.
“Pisahkan antara srigala gila dan berdarah dingin” aku memperhatikan satu persatu. Aku memandang satu wajah yang cukup kukenal.
“Jhovan ?” aku terkaget sendiri ketika menyadari bahwa satu diantara vampir itu adalah Jhovan.
“Kau mengenalnya ? Sesungguhnya dialah yang mengalahkan Yang Mulia Pangeran dipertempuran dan membunuhnya.” Sang Partusa angkat bicara. Ia adalah seorang peramal, meski kami para penyihir bisa meramal, namun kami mebutuhkan yang lebih ahli.
“Apa ? Dia ? Dia yang membunuh kakakku ?” aku menunjuknya dan bertanya dengan penuh rasa penasaran padanya.
Kuambil pedang perangku yang tergeletak diatas meja disampingku. Emosiku meluap-luap. Walau ia adalah temanku, tetapi ia telah berani membunuh kakakku. Ku angkat pedang itu kelangit-langit dan ... saat pedangku tepat dilehernya, Prycella datang menghentikanku.
“Hentikan Lyra. Kau tak boleh melakukan itu!”
“Mengapa tidak ? Dia telah membunuh Diago. Kukira ini pembalasan yang setimpal untuknya!”
“Tidak Lyra. Kau dan dia adalah saudara kembar. Kalian terpisah saat kalian masih kecil” Sang Partusan membela Sella dengan perkataan gilanya.
“Apa ? aku dan Jhovan adalah saudara kembar ? Ini tidak masuk akal.”
“Lihatlah. Ini bukan sembarang kalung. Ini lah benda yang mereka cari selama ini. Batu Perdamaian Dunia Abadi.”
“Tapi ini hanyalah kalung,” aku membela diri. Aku tak ingin menerima kenyataan bahwa aku benar-benar bersaudara Jhovan yang telah membunuh kakakku.
“Perhatikanlah baik-baik Lyra. Kalungmu dan kalung Pangerang Darah Dingin itu sebenarnya satu bagian yang terbelah menjadi dua bagian.”
Ku perhatikan dengan detail kalungku dan kalung Jhovan. Dan ya. Dia benar kalung kami adalah satu kesatuan. Dikalungku ada separuh batu permata berwarna putih dan dikalung Jhovan ada separuhnya lagi. Ini gila. Sella melepaskan ikatan Jhovan dan membersihkannya.
“Sang Partusa benar. Maaf. Kami berbohong padamu selama ini.”
“Apa maksudmu Sella ?”
“Kau bukanlah adik kandungku Lyra. 16 tahun yang lalu didunia manusia ada sebuah kejadian alam yang mengerikan. Suatu desa ditepi pantai yang bernama Fallyorock di Rumania mengalami tsunami yang sangat dahsyat, hingga membuat desa itu dan puluhan desa serta kota lainnya hancur. Ayah dan ibu diperintahkan oleh Kementrian Seluruh Dunia untuk melihat apa yang terjadi. Tersiar kabar bahwa Batu Permata Perdamaian Dunia telah hilang dicuri. Ayah kandungmulah yang mencuri batu itu. Ia sesungguhnya tidak tahu apa-apa mengenai batu itu, saat ia sedang mencari ikan dilautan ia melihat batu berkilauan itu dan diambilnyalah. Hingga membuat  Dewa Neptunus marah dan menghancurkan daerah itu dengan air lautnya.” Sella bercerita panjang lebar tentang aku yang sebenarnya. Mungkin wajar saja jika selama ini ia sangat membenciku, itu karena aku adalah bukan adik kandungnya dan aku adalah humanborn.
“Lalu dimanakah orangtua kadungku ?” ternyata Jhovan juga sangat tak menyangka bahwa ia bukanlah vampir, melainkan manusia.
“Mereka mati saat kejadiaan itu terjadi. Sebelumnya ayahmu sempat memberikan batu itu kepada kalian berdua, kau Pangeran Darah Dingin – ia menatap Jhovan sejenak – nama aslimu ialah Patra Lerago Givason dan kau Yang Mulia Putri Muda Lyra, kau adalah Cleopus Andromeda Givason. Nama kalian diambil dari nama seorang ratu tercantik dan terkuat didunia manusia pada masanya, yaitu Cleopatra . Ayahmu adalah Arnold Filiago Givason dan ibumu adalah Miura Isabella Arasque. Saat semua mahluk tahu bahwa batu Perdamaian Dunia itu hilang mereka berbondong-bondong datang ketempat itu dengan maksud mencari batu itu dan dapat mengusaisai seluruh dunia ditangannya. Jadi kau Lyra, kau ditemukan oleh yang Mulia Ratu dan kau, kau ditemukan oleh Raja Vampir, ayah angkatmu.”
“Lalu apa yang harus kami lakukan dengan pecahan Batu Perdamaian Dunia ini ?”
“Kalian harus menyatukannya lagi. Kemarilah. “ Ia meminta aku dan kakak kandungku Jhovan untuk mendekatinya. “Kalian harus menyatukannya diatas tempat tertinggi saat matahari tepat berada diatas kepala. Satukan lah kalung kalian itu, sehingga tidak ada algi pertempuran antara dunia manapun”, ia memberi kami petunjuk penyatuan batu itu. “pada hitungan ketiga sentuhlah pedang ini. Satu ... dua ... tiga .”. Seketika aku dan Jhovan telah berada digurun pasir. Ini adalah Mesir. Kami harus meyatukan kalung kami ini di atas piramid saat matahari tepat diatas kepala, dan inilah saatnya. Cahaya itu menyilaukan mataku, dan tiba-tiba saja kami sudah kembali lagi keistanaku.
“Semua sudah selesai.” Senang rasanya melihat kenyataan bahwa bencana ini sudah selesai. “Sella, mulai saat ini kaulah pewaris sah tahtah kerajaan ini. Bukan aku.”
“Tidak. Aku tidak mau. Aku sudah memutuskan untuk tinggal didunia manusia dan hidup bersama Joseph”
“Joseph ?”
“Ya. Dia temanku di tempat aku bekerja. Aku akan menikah dengannya, walau ibu tak memberiku restu sekali pun.”
“Tidak Sella, kau harus tetap disini menjaga rakyat kita. Aku tak bisa memimpin istana ini lagi aku akan hidup didunia manusia besama kakakaku Patra untuk selamanya menjalani hidup sebagaimana manusia mestinya. Bukan sebagai penyihir bukan pula vampir. Kurasa ibu akan mentolerir mu. Masalah ia humanborn atau bukan, itu tidak menjadi masalah. Namun jika kau mencintainya, itu tidak apa-apa. Kurasa akan jadi hal baru dikeluarga kita jika kau memulai garis keturunan baru Sella.”
Dan inilah akhir yang sesungguhnya. Aku – Cleo – dan kakak kandungku – Patra – berniat akan mencari tahu lagi tentang ayah dan ibu kami. Aku senang bahwa masih memiliki seorang kakak, dan yang ini benar-benar kakak kandungku. Sella dinobatkan menjadi Ratu di Lautan Sihir, ia mendapat restu dari ibu , meski ada sedikit kontrofersi mengenai pernikahannya, tapi Sella tak ambil pusing. Aku bahagia. Dunia bisa tentram kembali. Oh Cleoptra berkatmu kami mewarisai kekuatan dan kecerdasan yang luar biasa.