etika paginya aku
membuka mata – atau lebih tepatnya tengah malam – aku melihat banyak cahaya
aneh berkilauan dan dilatar belakangi suara decitan pedang dan banyak suara
jeritan dan teriakan yang parau. Ketakutan mulai merasuki pikiranku. Aku
menyipitkan mata saat ingin melihat sesuatu diluar sambil berusaha bangkit dari
kasur empukku yang masih merayuku dengan kehangatannya, namun rasa
keingintahuanku dengan cepat menolaknya. Aku berlari menuju jendela kamar untuk
melihat apakah yang sedang terjadi diluar sana. Suara kepala pelayanku – Sarah
Arthur – yang berteriak sekencang-kencangnya sehingga membuatku terkaget
dibuatnya. Aku bertanya-tanya padanya untuk segera menjelaskan padaku sesungguhnya
apa yang terjadi. Ia memasukkan pakaianku sebanyak-banyaknya yang bisa ia jejal
ke dalam tas segalanya dan sekarang
tas berwarna ungu kehitam-hitaman itu sudah penuh dengan semua perlengkapanku.
“Sarah, kita mau pergi kemana ?
Apakah Ibu, Diago dan Prycella sudah mengetahui hal ini ?” aku kembali
menanyainya dan dengan cepat mengenakan
jubahku yang tergantung dibalik pintu.
“Putri muda Lyra, kumohon jangan mempersulitku. Yang harus diselamatkan di
istana ini bukan hanya dirimu. Bawalah tas ini dan segera pergi ke Gerbang
Cahaya, disana Yang Mulia Ratu, dan
Pangeran Diago telah menuggu Putri muda. Dan tentu saja Putri harus melalui
jalan rahasia, aku akan memerintahkan beberapa pengawal untuk menjaga Putri agar
sampai di Gerbang Cahaya dengan cepat dan selamat tentunya.” Ia menyerahkan tas
berat itu padaku tanpa memikirkan apakah aku akan sanggup untuk menggotongnya
keluar hingga sampai ke Gerbang Cahaya dengan cepat dan selamat seperti apa
yang diharapkannya.
Aku pun segera membuntutinya dengan cepat turun naik dari satu tangga ke
tangga lainnya, berbelok kekiri dan kekanan hingga akhirnya sampai didepan
pintu Gerbang Cahaya. Sesampainya disana
ibu langsung memelukku erat dan berkata “ Lyra kau harus pergi bersama Prycella
dan Diago ke dunia manusia. Suasana saat ini sedang mencekam. Ibu sangat senang
jika kau mau menuruti perkataanku ini. Selama didunia manusia kalian akan
tinggal bersama bibi Katherine di London, lakukan apapun yang dikatakannya.
Jangan membatahnya.“ ibu berkata dengan tegas. Kakaku Diago menolak untuk ikut
bersama kami kedunia manusia, ia merasa harus memimpin perang kali ini. Begitu
juga ibu, ia sebagai seorang ratu tidak mungkin meninggalkan rakyatnya disaat
seperti ini. Akhirnya ibu tetap memutuskan aku dan Sella untuk pergi kedunia
manusia bersama Jendral Fabrio Heporis,
Sarah dan anaknya – Julius Arthur – dan sekitar 8 orang prajurit untuk menjaga
kami. Diago menyarankan agar ibu sementara waktu beristirahat dulu dikediaman
paman Antonio Bizonger, dan Diago sendiri sementara akan memengang alih
kekuasaan. Meski Diago bukanlah anak sulung dikeluarga kami, tapi aku yakin
jika ayah masih hidup pun ia dengan senang hati akan memberikan tahtah Kerajaan
Lautan Sihir ketanggannya, bukan ketangan Sella yang sok tahu itu.
Aku adalah seorang putri bungsu dari pasangan raja dan ratu Kerajaan Lautan
Sihir. Ayahku yaitu James Van Federich Dozaperes dan ibuku – Mellyora Neils
Mildewe -. Aku memiliki dua orang saudara yakni Prycella Victoria Dozaperes
(Sella) dan Albert John Diago Dozaperes (Diago) dan namaku sendiri adalah
Vallera Van Laurent Dozaperes, tapi ayah lebih suka memanggilku dengan Lyra.
Mengingat tentang ayah membuatku sedih, ayah sudah pergi meninggalkan kami 3
tahun lalu saat bertempur melawan para werewolf dan vampir di
Perbatasan Gerbang. Peperangan itu sendiri seperti tanpa sebab yang pasti. Ia
adalah sosok pahlawan sepanjang masa. Aku sebenarnya juga ingin menemani Diago
berperang untuk membalaskan dendamku pada para vampir yang telah membunuh
ayahku. Namun, aku masih takut. Semoga suatu saat nanti aku mempunyai
keberanian dan kekuatan yang besar untuk dapat melawan mereka.
Perjalanan menuju dunia manusia sangatlah singkat – hanya dalam hitungan
detik saja – kami melewati pintu kayu tua yang ternyata adalah gerbang antara
dunia sihir dan dunia manusia. Gerbang Cahaya sendiri ialah sebuah pondok tua
dipedalaman Hutan Salem di perbatasan Britaniya Raya dan Skotlandia. Yang
melelahkan adalah perjalanan menuju rumah bibi Katherine di London, selama
perjalanan aku tertidur, jadi aku tak tahu seberapa lama perjalanan tadi.
* * *
Saat didunia manusia aku mau tak mau harus hidup layaknya seorang manusia
normal. Itu berarti tak ada tongkat sihir, tak ada mantra, tak ada jubah, dan
pastinya tak ada sapu terbang yang dapat membawamu terbang mengelilingi kota.
Begitu juga dengan Prycella, karena usianya yang terbilang sudah produktif
yakni 21 tahun – 5 tahun lebih tua dariku – ia disarankan untuk bekerja
diperusahaan yang dipegang oleh paman Hendry – suami bibi Katherine – jadi ia
bekerja disana sebagai karyawan dibidang pemasaran. Awalnya ia tampak jelas
tidak setuju, namun aku mengingatkannya akan usaha melarikan diri ini. Jadi dia
menyetujuinya tanpa syarat.
Aku mulai membiasakan diri disini – didunia manusia –. Aku bersekolah di
Victoria School bersama Julius. Sebelumnya aku juga pernah sekolah di Yohanes
Young School. Aku menyukai sekolah lamaku – sangat –. Disana aku belajar
bagaimana cara mengendarai sapu terbang dengan baik, membaca ramalan,
mempelajari rune kuno, mngubah diriku sendiri menjadi hewan (transfigurasi),
menghafalkan beberapa mantra pertahanan ilmu hitam dan penyiksaan, membuat
ramuan keberuntungan dan bagian yang aku suka saat aku bersekolah disana ialah
... berjumpa dengan Pangeran William Lee Han Edgar. William begitu sempurna. Ia
masih keturunan pureblood – darah
murni – atau lebih jelasnya belum ada pencampuran darah dengan humanborn – kelahiran manusia -.
Sesungguhnya ia berasal dari Asia, Korea tepatnya. Matanya yang khas, kulitnya
yang eksotis dan dengan tambahan biru terang bola matanya membuat dia
benar-benar terlihat perfect.
Disekolah lamaku kami hanya pulang 3 bulan sekali, tidak seperti disini. Aku
harus pulang pergi setiap hari, itu membuatku kelelahan. Hanya ada satu
pelajaran yang bisa kuterapkan dari dunia sihir kedunia manusia ini, yaitu
Bersosialisasi dengan humanborn. Itu cukup membantuku mengerti mengapa manusia
sangat membenci kami. Saat dikelas Sejarah Inggris tadi aku bersama Erika
Corous – satu-satunya teman baru manusia yang kupunya – harus membahas tentang
Pembantaian Penyihir pada Abad Pertengahan. Itu sangat menggangguku. Aku
merinding saat Mr. Aridne membacakan cerita itu lembar demi lembar. Erika
cekikikan melihatku begitu. Aku bertambah benci dengan para humanborn ini,
rasanya ingin sekali aku mengayunkan tongkat sihirku dan mengucapkan mantra
penyiksaan. Agar mereka tahu bagaimana sengsaranya kami para penyihir ketika
harus hidup secara sembunyi-sembunyi selama berabad-abad karena ulah keji
mereka yang tega membunuh, membantai bahkan membakar kami yang belum tentu
bersalah ini.
Akhinya bel pulang sekolah pun berbunyi. Aku memasukkan asal-asalan bukuku
kedalam tas. Aku melewati beberapa koridor dengan langkah secepat yang kubisa.
Hingga seorang siswa menabrakku tak sengaja dan membuat keseimbanganku hilang.
“Maaf nona, aku terlalu terburu-buru” ucapnya sambil meraih tanganku dan
membantuku berdiri.
“Tidak apa-apa. Tadi aku berjalan dengan sangat cepat sampai aku tak
melihatmu” aku berdiri dan mencoba membersihkan pakaianku.
“Sepertinya kau murid baru itu ya. Kenalkan aku Jhovan. Jhovan de Laughter
Mauler.” ia mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan, aku menyambutnya
dengan hangat. Tangannya terasa dingin fikirku.
“Ya. Aku baru pindah 2 minggu yang lalu. Aku tinggal bersama bibiku. Hai
Jhovan. Aku Vallera Van Laurent Dozaperes. Nama yang panjang ya. Tapi kau bisa
memanggilku dengan Lyra.”
“Baiklah. Jadi kau mau kemana Lyra ?”
“Pulang tentunya.”
“Sebagai tanda maafku, maukah kau kuantarkan pulang ?” aku berfikir
sejenak. Tapi kerena aku sedang lelah jadi aku mengiyakan ajakannya.
Sepanjang perjalanan Jhovan dan aku berbincang-bincang tentang hobi kami
masing-masing. Aku menatapnya. Ia tak terlalu buruk, aku bergumam dalam hati.
Bisa dibilang dia pria yang memukau gaya rambutnya yang acak-acakan, matanya
yang begitu hitam, kulitnya yang putih albino dan bentuk tubuhnya yang cukup
kekar. Aku melirik benda yang tergantung dilehernya. Aku bertanya mengapa ia
mau memakai benda aneh itu. Ia menjelaskan bahwa ini adalah kalung keluarga,
jadi ia harus memakainya kemana pun dia pergi. Fikiranku menangkap ada hal yang
berbeda dalam diri Jhovan, namun aku tak bisa melihatnya dengan jelas.
* * *
Prycella mulai menyukai pekerjaan barunya itu. Ia tampak sangat sibuk. Ini
waktu yang tepat. Jadi aku memutuskan untuk pergi diam-diam kembali ke Lautan
Sihir. Aku tak mau membuang waktu, jadi ku gunakan sapu terbangku yang disita
oleh bibi Katherine untuk pergi kesana. Aku merindukan Ibu – sangat –. Ini
sudah hampir 1 bulan semenjak kami meninggalkan istana. Dan baik ibu maupun
Diago belum ada kabarnya. Aku tak sabar untuk sampai disana dan bisa melihat
ibu dan Diago tersenyum menyambutku.
* * *
“Tidakkk ...!!!” aku berteriak sekuat tenagaku, “Siapa ? Siapa yang telah
membunuh kakakku ?” tangisku menjadi-jadi setelah kulihat bahwa Diago telah
terbujur kaku dikasur tempat tidurnya. Darah segar membasahi baju perangnya.
Kutatap ia dengan sepenuh hati, kupeluk jasad kakakku itu dipangkuanku.
“Tidak!, ini pasti hanya mimpi . Cubit aku. Beritahu aku bahwa ini benar-benar
hanya mimpi!” aku tak sanggup menerima kenyataan ini. Kakakku tercinta, Diago
menjadi korban peperangan ini, setelah dulu ayahku sempat menjadi korban juga.
Aku syok. Benar-benar syok. Aku tak bisa berfikir jernih lagi. Bagaimana ini ?
Apa yang harus kulakukan ? Apakah aku harus memberitahukan Sella sekarang juga
? Apakah ibu sudah tahu tentang ini ? Bagaimana nasib kerajaan dan rakyatku ini
jika orang yang memimpinnya mati ?. Bermacam-macam hal aneh ada dikepalaku
mengelilingi otakku dan berkecamuk difikiranku.
“Tenanglah Putri Muda Lyra. Tak ada gunanya Yang Mulia menangisi
kepergianya, ia sudah pergi ke Dunia Abadi dan meninggalkan kita untuk
selama-lamanya. Kuatkanlah dirimu Yang Mulia Putri. Kau harus kuat menghadapi
bencana ini.” Mr. Goldenred, penasihat raja memberiku kata-kata yang penuh
kekuatan.
“Apakah ibu sudah mendengar berita ini ?” aku berkata dengan terisak-isak
dan mencoba menyeka iar mataku yang membasi wajahku.
“Yang Mulia Ratu pergi ke Daratan Langit untuk meminta bantuan pada para
petinggi kementrian sihir dunia 2 hari sebelumnya.” Ia menggotongku keluar
kamar Diago dengan hati-hati.
“Siapkan baju perang untukku.”
“Tapi Yang Mulia, Yang Mulia Ratu takkan pernah mengizinkan Yang Mulia
Putri Muda untuk ikut berperang.” Ia mencoba menghalangiku.
“Ibu tidak ada disini. Jadi saat ini akulah yang berkuasa. Sekarang cepat
kau siapkan baju perang untukku. Ini perintah!” niatku sudah bulat. Aku ingin
melampiaskan amarahku ini. Inginku balaskan dendam ayah dan kakakku, merkipun
nyawaku taruhannya. Aku tak perduli. Aku telah memiliki alasan yang kuat untuk
melakukan ini. Kekuatan yang sangat besar.
“Siapa ?” aku kembali mengulang pertanyaanku pada sang penasihat raja. Ia
tak menjawab. Ia hanya menolehkan wajahnya pada sebuah lukisan dikamar pribadi
raja. Vampir. Tak ada ampun untuk kalian bangsa berdarah dingin. Aku meraih
pedang ayahku yang telah lama disimpannya didalam lemari. Sang penasihat
memberiku sebuah kalung. Kalung yang indah. Sepertinya aku pernah melihat
kalung ini sebelumnya – aku mencoba mengingat -. Namun tak ada waktu lagi. Aku
dan pasukanku segera menyerbu para werewolf dan vampir di luar perbatasan
daerah kami. Namun sebelumnya, aku memantrai wilayah istana dan tempat tinggal
rakyatku dengan mantra pertahanan sehingga tak ada satu pun yang dapat
menyentuh dan menembusnya kecuali penyihir. Aku bertempur dengan membabi buta.
Aku tak peduli. Aku tak bisa menahan emosiku lagi, entah telah berapa lama aku
berperang, hingga aku mulai merasa kakiku gemetaran. Akhirnya. Aku bisa
mengalahakan mereka semua. Aku senang sekaligus bangga. Kami pun kembali
keistana. Prajuritku berhasil menangkap 4 werewofl dan 3 orang vampir yang
masih hidup. Aku akan mengintrogasi mereka nanti setelah aku mandi tentunya.
“Bawa mereka kehadapanku” perintahku pada prajurid untuk membawakan para
tawanan perangku tadi.
“Pisahkan antara srigala gila dan berdarah dingin” aku
memperhatikan satu persatu. Aku memandang satu wajah yang cukup kukenal.
“Jhovan ?” aku terkaget sendiri ketika menyadari bahwa satu diantara vampir
itu adalah Jhovan.
“Kau mengenalnya ? Sesungguhnya dialah yang mengalahkan Yang Mulia Pangeran
dipertempuran dan membunuhnya.” Sang Partusa angkat bicara. Ia adalah seorang
peramal, meski kami para penyihir bisa meramal, namun kami mebutuhkan yang
lebih ahli.
“Apa ? Dia ? Dia yang membunuh kakakku ?” aku menunjuknya dan bertanya
dengan penuh rasa penasaran padanya.
Kuambil pedang perangku yang tergeletak diatas meja disampingku. Emosiku
meluap-luap. Walau ia adalah temanku, tetapi ia telah berani membunuh kakakku.
Ku angkat pedang itu kelangit-langit dan ... saat pedangku tepat dilehernya,
Prycella datang menghentikanku.
“Hentikan Lyra. Kau tak boleh melakukan itu!”
“Mengapa tidak ? Dia telah membunuh Diago. Kukira ini pembalasan yang
setimpal untuknya!”
“Tidak Lyra. Kau dan dia adalah saudara kembar. Kalian terpisah saat kalian
masih kecil” Sang Partusan membela Sella dengan perkataan gilanya.
“Apa ? aku dan Jhovan adalah saudara kembar ? Ini tidak masuk akal.”
“Lihatlah. Ini bukan sembarang kalung. Ini lah benda yang mereka cari
selama ini. Batu Perdamaian Dunia Abadi.”
“Tapi ini hanyalah kalung,” aku membela diri. Aku tak ingin menerima
kenyataan bahwa aku benar-benar bersaudara Jhovan yang telah membunuh kakakku.
“Perhatikanlah baik-baik Lyra. Kalungmu dan kalung Pangerang Darah Dingin
itu sebenarnya satu bagian yang terbelah menjadi dua bagian.”
Ku perhatikan dengan detail kalungku dan kalung Jhovan. Dan ya. Dia benar
kalung kami adalah satu kesatuan. Dikalungku ada separuh batu permata berwarna
putih dan dikalung Jhovan ada separuhnya lagi. Ini gila. Sella melepaskan
ikatan Jhovan dan membersihkannya.
“Sang Partusa benar. Maaf. Kami berbohong padamu selama ini.”
“Apa maksudmu Sella ?”
“Kau bukanlah adik kandungku Lyra. 16 tahun yang lalu didunia manusia ada
sebuah kejadian alam yang mengerikan. Suatu desa ditepi pantai yang bernama
Fallyorock di Rumania mengalami tsunami yang sangat dahsyat, hingga membuat
desa itu dan puluhan desa serta kota lainnya hancur. Ayah dan ibu diperintahkan
oleh Kementrian Seluruh Dunia untuk melihat apa yang terjadi. Tersiar kabar
bahwa Batu Permata Perdamaian Dunia telah hilang dicuri. Ayah kandungmulah yang
mencuri batu itu. Ia sesungguhnya tidak tahu apa-apa mengenai batu itu, saat ia
sedang mencari ikan dilautan ia melihat batu berkilauan itu dan diambilnyalah.
Hingga membuat Dewa Neptunus marah dan
menghancurkan daerah itu dengan air lautnya.” Sella bercerita panjang lebar
tentang aku yang sebenarnya. Mungkin wajar saja jika selama ini ia sangat
membenciku, itu karena aku adalah bukan adik kandungnya dan aku adalah humanborn.
“Lalu dimanakah orangtua kadungku ?” ternyata Jhovan juga sangat tak
menyangka bahwa ia bukanlah vampir, melainkan manusia.
“Mereka mati saat kejadiaan itu terjadi. Sebelumnya ayahmu sempat
memberikan batu itu kepada kalian berdua, kau Pangeran Darah Dingin – ia
menatap Jhovan sejenak – nama aslimu ialah Patra Lerago Givason dan kau Yang
Mulia Putri Muda Lyra, kau adalah Cleopus Andromeda Givason. Nama kalian
diambil dari nama seorang ratu tercantik dan terkuat didunia manusia pada
masanya, yaitu Cleopatra . Ayahmu
adalah Arnold Filiago Givason dan ibumu adalah Miura Isabella Arasque. Saat
semua mahluk tahu bahwa batu Perdamaian Dunia itu hilang mereka
berbondong-bondong datang ketempat itu dengan maksud mencari batu itu dan dapat
mengusaisai seluruh dunia ditangannya. Jadi kau Lyra, kau ditemukan oleh yang
Mulia Ratu dan kau, kau ditemukan oleh Raja Vampir, ayah angkatmu.”
“Lalu apa yang harus kami lakukan dengan pecahan Batu Perdamaian Dunia ini
?”
“Kalian harus menyatukannya lagi. Kemarilah. “ Ia meminta aku dan kakak
kandungku Jhovan untuk mendekatinya. “Kalian harus menyatukannya diatas tempat
tertinggi saat matahari tepat berada diatas kepala. Satukan lah kalung kalian
itu, sehingga tidak ada algi pertempuran antara dunia manapun”, ia memberi kami
petunjuk penyatuan batu itu. “pada hitungan ketiga sentuhlah pedang ini. Satu
... dua ... tiga .”. Seketika aku dan Jhovan telah berada digurun pasir. Ini
adalah Mesir. Kami harus meyatukan kalung kami ini di atas piramid saat
matahari tepat diatas kepala, dan inilah saatnya. Cahaya itu menyilaukan
mataku, dan tiba-tiba saja kami sudah kembali lagi keistanaku.
“Semua sudah selesai.” Senang rasanya melihat kenyataan bahwa bencana ini
sudah selesai. “Sella, mulai saat ini kaulah pewaris sah tahtah kerajaan ini.
Bukan aku.”
“Tidak. Aku tidak mau. Aku sudah memutuskan untuk tinggal didunia manusia
dan hidup bersama Joseph”
“Joseph ?”
“Ya. Dia temanku di tempat aku bekerja. Aku akan menikah dengannya, walau
ibu tak memberiku restu sekali pun.”
“Tidak Sella, kau harus tetap disini menjaga rakyat kita. Aku tak bisa
memimpin istana ini lagi aku akan hidup didunia manusia besama kakakaku Patra
untuk selamanya menjalani hidup sebagaimana manusia mestinya. Bukan sebagai
penyihir bukan pula vampir. Kurasa ibu akan mentolerir mu. Masalah ia humanborn
atau bukan, itu tidak menjadi masalah. Namun jika kau mencintainya, itu tidak
apa-apa. Kurasa akan jadi hal baru dikeluarga kita jika kau memulai garis
keturunan baru Sella.”
Dan inilah akhir yang sesungguhnya. Aku – Cleo – dan kakak kandungku –
Patra – berniat akan mencari tahu lagi tentang ayah dan ibu kami. Aku senang
bahwa masih memiliki seorang kakak, dan yang ini benar-benar kakak kandungku.
Sella dinobatkan menjadi Ratu di Lautan Sihir, ia mendapat restu dari ibu ,
meski ada sedikit kontrofersi mengenai pernikahannya, tapi Sella tak ambil
pusing. Aku bahagia. Dunia bisa tentram kembali. Oh Cleoptra berkatmu kami
mewarisai kekuatan dan kecerdasan yang luar biasa.